Sabtu, 05 Maret 2011

Kuman-Kuman Kebal—Suatu Ancaman Global

RESISTANT GERMS
A Global Menace

1. Ebola virus; 2. Staphylococcus aureus bacteria; 3. Giardia lamblia protozoan; 4. Ringworm fungus

Seberapa Hebatkah Ancamannya?

PADA bulan Oktober 1997, Hollie Mullin, bayi berusia tiga minggu, mengidap infeksi telinga. Ketika infeksinya memburuk dalam beberapa hari, dokternya meresepkan sebuah antibiotik modern. Seharusnya infeksi itu segera sembuh, tetapi ternyata tidak. Infeksi itu kambuh dan terus kambuh setelah setiap rangkaian pengobatan dengan antibiotik diberikan.

Crying baby

Pada tahun pertamanya, Hollie menerima 17 rangkaian pengobatan dengan berbagai antibiotik. Kemudian, pada usia 21 bulan, ia mengalami infeksi yang terburuk. Setelah 14 hari diinfus sebuah antibiotik yang terakhir, infeksi itu akhirnya sembuh juga.

Kasus seperti ini telah semakin umum dan tidak hanya terjadi di kalangan bayi dan lansia. Orang-orang dari semua lapisan usia jatuh sakit dan bahkan sekarat akibat infeksi yang dulunya mudah disembuhkan dengan antibiotik. Sebenarnya, kuman-kuman yang lolos dari serangan antibiotik telah menimbulkan problem serius di beberapa rumah sakit sejak tahun 1950-an. Kemudian, selama tahun 1960-an dan 1970-an, kuman-kuman yang kebal terhadap antibiotik menyebar ke masyarakat.

Akhirnya, para peneliti medis mulai menyoroti penggunaan antibiotik yang berlebihan pada manusia dan binatang sebagai penyebab utama meningkatnya kuman-kuman yang kebal terhadap antibiotik. Pada tahun 1978, salah seorang personel medis itu menggambarkan penggunaan antibiotik yang berlebihan sebagai ”di luar kendali sama sekali”. Maka, pada tahun 1990-an, kepala berita seperti berikut ini pun bermunculan di seluruh dunia: ”Kuman-Kuman Super Tiba”, ”Kuman-Kuman Super Mencengkeram Dunia”, ”Obat Berbahaya—Penggunaan Antibiotik yang Berlebihan Melahirkan Kuman-Kuman Super”.

Sekadar berita sensasional? Tidak, menurut berbagai organisasi medis yang disegani. Dalam suatu laporan tentang penyakit menular pada tahun 2000, direktur jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, ”Pada fajar milenium baru, umat manusia dihadapkan pada krisis lain. Penyakit yang dahulu dapat disembuhkan . . . kini semakin kebal terhadap antimikroba.”

Seberapa seriuskah krisis ini? ”Perkembangan [kuman kebal terhadap obat] yang mengganggu ini sedang menutup jendela kesempatan untuk mengobati penyakit menular,” kata WHO melaporkan. Sejumlah nara sumber dewasa ini bahkan membicarakan tentang kembalinya umat manusia ke suatu ”era pra-antibiotik”, manakala tidak ada antibiotik untuk menyembuhkan infeksi.

Bagaimana mikroorganisme yang kebal sampai sanggup, seolah-olah, menjajah dunia, mengalahkan kemajuan sains yang canggih? Adakah sesuatu yang dapat seseorang lakukan untuk melindungi dirinya atau orang-orang lain? Dan, apa saja solusi yang diharapkan di masa depan untuk memerangi kuman-kuman yang kebal terhadap antibiotik? Artikel-artikel berikut memberikan beberapa jawabannya.

Appeared in Awake! October 22, 2003




1. Ebola virus; 2. Staphylococcus aureus bacteria; 3. Giardia lamblia protozoan; 4. Ringworm fungus


    Alexander Fleming

    Alexander Fleming, penemu penicillin

    Kuman-Kuman yang Tangguh
    —Cara Mereka Muncul Kembali

    VIRUS, bakteri, protozoa, fungi, dan mikroorganisme lain tampaknya telah ada sejak kehidupan di bumi dimulai. Fleksibilitas yang memukau dari kuman-kuman ini, yang paling sederhana dari semua makhluk, telah memungkinkan mereka bertahan hidup dalam lingkungan yang tidak dapat didiami makhluk lain. Mereka ada di corong-corong hidrotermal dasar samudra yang mendidih serta di perairan Arktik yang membeku. Sekarang, kuman-kuman ini sedang melawan serangan yang paling intensif terhadap keberadaan mereka—obat antimikroba.

    Seratus tahun yang lalu, beberapa mikroba, atau mikroorganisme, diketahui menyebabkan penyakit, tetapi tidak seorang pun pada saat itu yang pernah mendengar tentang obat antimikroba. Jadi, jika seseorang mengidap penyakit menular yang serius, banyak dokter tidak dapat berbuat banyak untuk mengobati selain memberikan dukungan moril. Sistem kekebalan orang itu sendiri yang harus melawan infeksi tersebut. Jika sistem kekebalan tidak cukup kuat, konsekuensinya sering kali tragis. Bahkan goresan kecil yang terinfeksi sebuah mikroba acap kali menyebabkan kematian.

    Jadi, penemuan obat antimikroba pertama yang aman—antibiotik—merevolusi ilmu kedokteran.* Penggunaan medis obat sulfa pada tahun 1930-an dan obat-obat seperti penisilin dan streptomisin pada tahun 1940-an menuntun kepada banjir penemuan pada dekade-dekade sesudahnya. Pada tahun 1990-an, gudang persenjataan antibiotik telah mencakup sekitar 150 senyawa dalam 15 kategori yang berbeda.

    Harapan untuk Menang DIhancurkan

    Pada tahun 1950-an dan 1960-an, beberapa orang mulai merayakan kemenangan atas penyakit menular. Beberapa mikrobiolog bahkan yakin bahwa penyakit itu akan segera menjadi mimpi buruk di masa lalu. Pada tahun 1969, kepala dinas kesehatan AS menyatakan di hadapan Kongres bahwa umat manusia dapat segera ”menutup buku terhadap penyakit menular”. Pada tahun 1972, penerima Nobel Macfarlane Burnet bersama David White menulis, ”Kemungkinan besar, prakiraan mengenai masa depan penyakit menular hanyalah berupa kertas kosong saja.” Sebenarnya, beberapa orang merasa bahwa penyakit semacam itu dapat dilenyapkan semuanya.

    Keyakinan bahwa penyakit menular seolah-olah telah dikalahkan menghasilkan sikap terlalu percaya diri yang meluas. Seorang perawat yang mengenal baik ancaman hebat yang dibawa kuman sebelum diperkenalkannya antibiotik mengomentari bahwa beberapa perawat muda telah bersikap longgar dalam higiene dasar. Sewaktu ia mengingatkan mereka untuk mencuci tangan, mereka akan menangkis, ”Jangan khawatir, sekarang kita kan punya antibiotik.”

    Namun, kebergantungan pada antibiotik dan penggunaannya secara berlebihan memiliki konsekuensi yang sangat buruk. Penyakit menular tak kunjung lenyap. Selain itu, mereka telah kembali mengaum dan menjadi penyebab kematian utama di dunia ini! Faktor-faktor lain yang juga turut menyebabkan penyebaran penyakit menular mencakup kekacauan karena perang, meluasnya malnutrisi di negara-negara berkembang, kurangnya air bersih, buruknya sanitasi, cepatnya perjalanan internasional, dan berubahnya iklim global.

    Kekebalan Bakteri

    Kemampuan yang mencengangkan dari kuman biasa untuk memulihkan diri telah terbukti sebagai problem utama, problem yang umumnya tidak diantisipasi. Namun, bila ditelaah kembali, fakta bahwa kuman-kuman akan mengembangkan kekebalan terhadap obat seharusnya telah diantisipasi. Mengapa? Contohnya, perhatikanlah hal serupa yang terjadi ketika diperkenalkannya insektisida DDT pada pertengahan tahun 1940-an.# Pada waktu itu, orang-orang peternakan senang karena lalat benar-benar lenyap berkat penyemprotan DDT. Tetapi, sejumlah kecil lalat tetap hidup, dan keturunan mereka mewarisi kekebalan terhadap DDT. Tidak lama kemudian, lalat-lalat ini, yang tidak terpengaruh oleh DDT, berlipat ganda dalam jumlah yang sangat besar.

    Bahkan sebelum DDT digunakan, dan sebelum penisilin tersedia secara komersial pada tahun 1944, bakteri yang berbahaya memberikan gambaran pendahuluan tentang persenjataan pertahanan mereka yang mengagumkan. Doktor Alexander Fleming, penemu penisilin, menyadari hal ini. Di laboratoriumnya, ia mengamati seraya generasi-generasi penerus dari Staphylococcus aureus (stafilokokus rumah sakit) mengembangkan dinding-dinding sel yang semakin kebal terhadap obat yang telah ia temukan.

    Ini menyebabkan Dr. Fleming memperingatkan, sekitar 60 tahun yang lalu, bahwa bakteri berbahaya yang menjangkiti seseorang dapat mengembangkan kekebalan terhadap penisilin. Jadi, jika dosis penisilin tidak membunuh cukup banyak bakteri yang berbahaya, keturunan mereka yang kebal akan berlipat ganda. Akibatnya, akan ada pemunculan kembali penyakit yang tidak dapat disembuhkan penisilin.

    Buku The Antibiotic Paradox berkomentar, ”Prediksi Fleming terbukti benar dengan cara yang lebih menghancurkan daripada dugaannya.” Mengapa demikian? Nah, telah diketahui bahwa dalam beberapa jenis bakteri, gen-gen—cetak biru yang sangat halus dalam DNA bakteri—menghasilkan enzim-enzim yang membuat penisilin tidak efektif. Akibatnya, bahkan serangkaian penggunaan penisilin yang ektensif sering kali terbukti sia-sia. Ini sungguh mengejutkan!

    Dalam upaya memenangkan pertempuran melawan penyakit menular, antibiotik-antibiotik baru secara teratur menjadi bagian dari praktek medis sejak tahun 1940-an sampai 1970-an, termasuk beberapa waktu selama tahun 1980-an dan 1990-an. Antibiotik ini dapat menangani bakteri yang kebal terhadap obat-obat sebelumnya. Tetapi, dalam beberapa tahun, muncul jenis-jenis bakteri yang juga kebal terhadap obat-obat baru ini.

    Manusia telah tahu bahwa kekebalan bakteri sungguh lihai dan mencengangkan. Bakteri memiliki kesanggupan untuk mengubah dinding sel mereka guna mencegah masuknya antibiotik atau mengubah susunan kimia mereka sendiri sehingga antibiotik tidak dapat membunuh mereka. Di pihak lain, bakteri dapat memompa ke luar antibiotik secepat antibiotik itu masuk, atau bakteri itu sekadar melumpuhkan antibiotik dengan menguraikannya.

    Seraya penggunaan antibiotik meningkat, jenis-jenis bakteri yang kebal telah berlipat ganda dan menyebar. Malapetaka total? Tidak, setidaknya dalam kebanyakan kasus. Jika sebuah antibiotik tidak dapat menyembuhkan infeksi tertentu, yang lainnya biasanya dapat. Bakteri yang kebal terhadap antibiotik telah menjadi suatu gangguan, tetapi hingga baru-baru ini, hal itu masih bisa teratasi.

    Apa Antimikroba Itu?

    Antibiotik yang diberikan dokter kepada Anda termasuk kelas obat-obatan yang disebut antimikroba. Obat ini diklasifikasikan di bawah kategori umum ”kemoterapi”, yang berarti pengobatan penyakit dengan bahan kimia. Meskipun istilah ”kemoterapi” sering digunakan sehubungan dengan pengobatan kanker, istilah ini semula berlaku—dan masih berlaku—untuk pengobatan penyakit menular. Dalam kasus demikian, pengobatan itu disebut kemoterapi antimikroba.

    Mikroba, atau mikroorganisme, adalah organisme sangat kecil yang hanya bisa dilihat melalui mikroskop. Antimikroba adalah bahan kimia yang melawan mikroba penyebab penyakit. Sayangnya, antimikroba juga dapat melawan mikroba yang bermanfaat.

    Pada tahun 1941, Selman Waksman, rekan penemu streptomisin, menerapkan istilah ”antibiotik” pada antibakteri yang berasal dari mikroorganisme. Antibiotik dan juga antimikroba lain yang digunakan dalam pengobatan medis sangat bermanfaat karena obat itu mengandung apa yang disebut sebagai racun selektif. Ini berarti obat tersebut dapat meracuni kuman-kuman tanpa meracuni Anda secara serius.

    Akan tetapi, sesungguhnya semua antibiotik sedikit banyak meracuni kita juga. Batas keamanan antara dosis yang akan mengimbas kuman dan dosis yang akan membahayakan kita disebut indeks terapeutik. Semakin besar indeksnya, semakin aman obatnya; semakin kecil indeksnya, semakin besar bahayanya. Sebenarnya, ribuan senyawa antibiotik telah ditemukan, tetapi sebagian besar tidak berguna dalam kedokteran karena terlalu beracun bagi manusia atau hewan.

    Antibiotik alami pertama yang dapat digunakan secara internal adalah penisilin, yang berasal dari semacam jamur yang disebut Penicillium notatum. Penisilin digunakan dengan cara infus untuk pertama kali pada tahun 1941. Tidak lama setelah itu, pada tahun 1943, streptomisin diisolasikan dari Streptomyces griseus, semacam bakteri tanah. Belakangan, banyak antibiotik tambahan yang dikembangkan, baik yang berasal dari makhluk hidup maupun yang dibuat secara sintetis. Namun, bakteri telah mengembangkan cara-cara untuk melawan banyak antibiotik ini, menyebabkan suatu problem medis global.

    Kekebalan terhadap Multiobat

    Kemudian, para ilmuwan medis terperangah sewaktu tahu bahwa bakteri saling bertukar gen. Pada mulanya diduga bahwa hanya bakteri sejenis yang dapat bertukar gen. Tetapi, belakangan gen-gen kekebalan yang persis sama ditemukan dalam bakteri yang sama sekali berbeda jenisnya. Melalui pertukaran semacam itu, bakteri yang berlainan jenis telah menghimpun kekebalan terhadap berbagai macam obat yang umum digunakan.

    Seolah-olah semua ini belum cukup, penelitian pada tahun 1990-an memperlihatkan bahwa beberapa bakteri dengan sendirinya dapat menjadi kebal terhadap obat. Bahkan dengan kehadiran satu antibiotik saja, beberapa jenis bakteri mengembangkan kekebalan terhadap beragam antibiotik, yang alami maupun yang sintetis.

    Masa Depan Suram

    Meski sebagian besar antibiotik dewasa ini masih manjur bagi mayoritas orang, seberapa efektifkah obat-obat semacam ini kelak di masa depan? The Antibiotic Paradox menyatakan, ”Kita tidak dapat lagi berharap bahwa setiap infeksi akan bisa diobati dengan antibiotik yang pertama dipilih.” Buku itu menambahkan, ”Di beberapa bagian dunia, persediaan antibiotik yang terbatas berarti tidak ada antibiotik yang efektif yang tersedia. . . . Para pasien menderita dan sekarat karena penyakit-penyakit yang sekitar 50 tahun yang lalu diramalkan akan dihapuskan dari permukaan bumi.”

    Bakteri bukanlah satu-satunya kuman yang menjadi kebal terhadap obat yang digunakan dalam kedokteran. Virus serta fungi dan parasit yang sangat kecil lainnya juga telah memperlihatkan kemampuan beradaptasi yang mengherankan, menyajikan jenis-jenis yang mengancam untuk membatalkan segala upaya yang dikerahkan untuk menemukan dan menghasilkan obat-obat yang memerangi mereka.

    Jadi, apa yang dapat dilakukan? Dapatkah kekebalan itu dilenyapkan atau setidak-tidaknya dikendalikan? Bagaimana antibiotik dan antimikroba lainnya dapat terus menang dalam suatu dunia yang semakin dilanda penyakit menular?

    Berikutnya: Ketika Kuman Tidak Membahayakan Siapa Pun

    Jenis Kuman

    Ebola virus

    Virus Ebola

    Staphylococcus aureus bacteria

    Bakteri "Staphylococcus aureus"

    Giardia lamblia protozoan

    Protozoa "Giardia lamblia"

    Ringworm fungus

    Fungi kadas

    Virus adalah kuman terkecil. Mereka adalah penyebab penyakit umum seperti demam, flu, dan radang tenggorokan. Virus juga menyebabkan penyakit yang mengerikan seperti polio, Ebola, dan AIDS.

    Bakteri adalah organisme bersel tunggal yang sedemikian sederhananya sehingga tidak mempunyai nukleus dan umumnya hanya memiliki satu kromosom. Ada triliunan bakteri yang mendiami tubuh kita, sebagian besar dalam sistem pencernaan kita. Bakteri membantu kita mencerna makanan kita dan merupakan sumber utama vitamin K, diperlukan untuk pembekuan darah.

    Hanya kira-kira 300 dari sekitar 4.600 spesies bakteri terdaftar yang dianggap patogen (bibit penyakit). Namun, bakteri adalah biang keladi sederetan panjang penyakit pada tanaman, hewan, dan manusia. Pada manusia, penyakit ini mencakup tuberkulosis, kolera, difteria, antraks, pembusukan gigi, pneumonia jenis tertentu, dan sejumlah penyakit lewat hubungan seks.

    Protozoa, seperti bakteri, adalah organisme bersel tunggal, tetapi memiliki lebih dari satu nukleus. Ini mencakup amuba dan tripanosoma serta parasit yang menyebabkan malaria. Kira-kira sepertiga spesies hidup adalah parasit—ada sekitar 10.000 jenis yang berbeda—meski hanya sebagian kecil parasit ini yang menyebabkan penyakit pada manusia.

    Fungi juga dapat menyebabkan penyakit. Organisme ini mempunyai nukleus dan membentuk serabut-serabut kusut berupa filamen. Infeksi yang paling umum ialah kadas, seperti kutu air, dan kandidiasis (Candida). Infeksi fungi yang serius biasanya hanya menjangkiti orang-orang yang pertahanannya telah diperlemah oleh malnutrisi, kanker, narkoba, atau infeksi akibat virus yang menghambat sistem kekebalan.


    * "Antibiotik," sebuah kata yang umum, adalah obat yang memerangi bakteri. ”Antimikroba” adalah istilah yang lebih umum dan mencakup obat apa pun yang melawan mikroba penyebab penyakit, entah itu virus, bakteri, fungi, entah parasit yang sangat kecil.

    # Insektisida adalah racun, tetapi obat pun demikian. Kedua-duanya terbukti berguna dan sekaligus berbahaya. Meskipun obat antibiotik dapat membunuh kuman yang berbahaya, obat itu juga membunuh bakteri yang bermanfaat.

    Appeared in Awake! October 22, 2003


    Selasa, 22 Februari 2011

    Penyakit yang Senyap, Osteoporosis

    OSTEOPOROSISA SILENT DISEASE

    Drawing of a spine

    Anna, 19 tahun, baru pulih dari kelainan perilaku makan anoreksia nervosa ketika ia tiba-tiba ambruk dengan nyeri punggung yang sangat hebat. Dua ratus tulang punggungnya patah dan tubuhnya bertambah pendek lima sentimeter, Penyebabnya adalah osteoporosis.

    "OSTEOPOROSIS" secara harfiah berarti "tulang yang keropos". Ini disebut penyakit yang senyap karena sering kali tidak ada gejala adanya pengeroposan pada tulang sampai tulang itu begitu rapuh sehingga retak atau patah sewaktu mendapat tekanan secara tiba-tiba, terbentur sesuatu, atau karena terjatuh. Bagian yang terkena biasanya pinggul, rusuk, tulang punggung, atau pergelangan tangan. Orang biasanya mengaitkan osteoporosis dengan wanita lansia yang ringkih. Namun, seperti kasus Anna, osteoporosis bisa juga menyerang orang muda.

    Ancaman Kesehatan yang Serius

    Yayasan Osteoporosis Internasional melaporkan bahwa "di Uni Eropa, setiap detik satu orang mengalami patah tulang akibat osteoporosis.” Di Amerika Serikat, 10 juta orang terkena osteoporosis, dan 34 lagi berisiko mengalaminya karena massa tulang yang rendah. Selain itu, Lembaga Kesehatan Nasional AS melaporkan bahwa “satu di antara setiap dua wanita dan satu di antara empat pria berusia 50 tahun ke atas akan mengalami patah tulang yang berkaitan dengan osteoporosis dalam kehidupan mereka.” Dan, situasi ini tampaknya tidak akan bertambah baik.

    Bulletin of the World Health Organization menyatakan bahwa jumlah kasus patah tulang akibat osteoporosis diperkirakan berlipat ganda di seluruh dunia dalam waktu 50 tahun mendatang. Prediksi ini kemungkinan didasarkan atas perkiraan meningkatnya jumlah penduduk lansia. Namun, konsekuensinya menakutkan. Jumlah orang yang cacat, bahkan meninggal, akibat osteoporosis cukup tinggi. Hampir 25 persen pasien berusia 50 tahun ke atas yang mengalami patah tulang pinggul meninggal akibat komplikasi medis dalam waktu setahun setelahnya.

    Osteoporosis adalah kondisi tulang yang ditandai oleh kepadatan tulang yang rendah dan merosotnya kekuatan tulang, sehingga tulang rapuh dan mudah patah atau retak. Ini bisa didiagnosis dengan pemindaian radiasi rendah, yang mengukur kepadatan mineral tulang.

    Apakah Anda Berisiko?

    Penelitian terbaru menyingkapkan bahwa faktor keturunan sangat berpengaruh. Apabila orang tua memiliki riwayat patah tulang pinggul, risiko terjadinya hal yang sama pada anak-anak mereka bisa berlipat ganda. Faktor risiko lain adalah malnutrisi pada janin, yang berakibat rendahnya kepadatan tulang pada masa kanak-kanak. Berikutnya adalah faktor usia. Seraya usia bertambah, tulang pun biasanya makin rapuh. Penyakit tertentu misalnya penyakit Cushing, diabetes, dan hipertiroidisme, bisa turut menyebabkan osteoporosis.

    Menopause pada wanita mengakibatkan berkurangnya estrogen yang melindungi massa tulang. Inilah sebabnya, wanita yang menderita osteoporosis jumlahnya hampir empat kali lipat pria. Kekurangan estrogen akibat pengangkatan rahim melalui pembedahan dapat mengakibatkan menopause dini.

    Faktor-faktor risiko osteoporosis yang dapat diperbaiki antara lain adalah kebiasaan makan dan gaya hidup. Pola makan rendah kalsium dan vitamin D turut menyebabkan kerusakan pada tulang. Terlalu banyak mengkonsumsi garam bisa meningkatkan risikonya, karena tubuh lebih banyak mengeluarkan kalsium. Kansumsi alkohol yang berlebihan, yang sering disertai gizi buruk, juga menyebabkan tulang kropos.

    Seperti yang disebutkan di awal, Anna menderita osteoporosis akibat kelainan perilaku makan. Kelainan itu menyebabkan kekurangan gizi, berat badan yang rendah, dan bahkan berhenti haid. Akibatnya, tubuhnya tidak lagi menghasilkan estrogen, sehingga tulangnya pun menjadi lemah.

    Faktor lain yang menyebabkan osteoporosis adalah gaya hidup yang kurang aktifitas fisik. Merokok juga merupakan faktor risiko yang besar, karena bisa menurunkan kepadatan mineral tulang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 1 dari 8 kasus patah tulang pinggul diakibatkan oleh merokok. Namun menurut penelitian, sewaku seorang berhenti merokok, pengeroposan tulang dan risiko mengalami patah tulang pun berkurang.

    Pencegahan Osteoporosis

    A woman exercising

    Olahraga beban dan peregangan turut mencegah hilangnya masa tulang

    A woman eating almonds

    Almon and produk susu adalah sumber kalsium yang sangat bagus

    A woman drinking milk

    Pencegahan osteoporosis harus dimulai sejak masa kanak-kanak dan remaja. Itulah saatnya 90 persen massa tulang total dicapai. Kalsium, gizi yang esensial untuk struktur rangka tulang yang kuat, disimpan terutama dalam tulang. Beberapa sumber utama kalsium adalah susu dan produk susu, seperti yogurt dan keju; sarden dan salmon kalengan (dimakan berikut tulangnya); almon; havermout; biji wijen; tahu; dan sayuran berdaun hijau.

    Agar kalsium dapat diserap oleh tubuh, sangat dibutuhkan vitamin D. Vitamin ini dibuat dalam kulit sewaktu terkena sinar matahari. Manuel Mirassou Ortega, dokter penyakit dalam dan anggota Asosiasi Metabolisme Tulang dan Mineral Meksiko, menjelaskan: “Berjemur sinar matahari selama sepuluh menit sehari turut mencegah berkembangnya osteoporosis, karena hal itu menghasilkan sekitar 600 unit vitamin D.” Vitamin ini juga terdapat dalam makanan seperti kuning telur ikan laut, dan hati.

    Olahraga sangat penting untuk mencegah osteoporosis. Selama masa kanak-kanak dan remaja, olah raga turut meningkatkan massa tulang, dan pada usia lanjut turut mencegah hilangnya masa tulang. Yang paling dianjurkan adalah olahraga beban dan peregangan—yang membuat otot bekerja melawan gravitasi dan gaya lain tanpa menimbulkan tekanan yang berlebihan atas tulang dan sendi. Berjalan kaki, menaiki tangga, dan bahkan berdansa adalah olahraga beban yang sederhana tetapi efektif.*

    Jelaslah. pencegahan sangat berperan untuk melawan penyakit yang senyap ini. Seperti yang kita lihat, ini bisa mencakup menyesuaikan pola makan dan gaya hidup seseorang untuk mempertahankan massa tulang dan meningkatkan kekuatan tulang. Memang, kebanyakan orang yang terlanjur menjalani gaya hidup kurang gerak mungkin sulit mengadakan perubahan. Tetapi, betapa besar manfaatnya bagi mereka yang mengupayakannya! Antara lain, mereka bisa terhindar dari penderitaan akibat osteoporosis yang dialami jutaan orang di seluruh dunia.

    A couple playing tennis

    Pencegahan bisa mencakup menyesuaikan pola makan dan gaya hidup sesorang guna mempertahankan massa tulang dan meningkatkan kekuatan tulang


    * Olahraga ekstrem, yang dilakukan hingga menyebabkan berhentinya siklus haid pada wanita, dapat mengakibatkan tulang rapuh karena kekurangan estrogen. Wanita berusia 65 tahun ke atas dianjurkan menjalani tes kepadatan tulang untuk menentukan apakah tulangnya kropos dan seberapa parah. Jika parah, ada obat-obatan yang bisa mencegah dan mengobati osteoporosis. Namun, risiko dan manfaatnya perlu dipertimbangkan sebelum memulai perawatan.

    Appeared in Awake! Ju ne 2010

    Sabtu, 22 Januari 2011

    A young woman at a doctor's office

    Aborsi
    Mengapa Harus Dipermasalahkan?

    Aborsi—Bukan Solusi yang Bebas Masalah

    BILL dibesarkan dengan keyakinan bahwa aborsi adalah dosa yang serius, sama dengan pembunuhan. Namun, pandangannya yang kukuh dan yang dianutnya selama puluhan tahun melunak pada tahun 1975 ketika ia sendiri menghadapi masalah itu. Pacarnya, Victoria, hamil, dan Bill tidak siap memikul tanggung jawab sebagai suami dan ayah. ”Saya langsung memilih solusi yang mudah,” Bill mengakui, ”dan saya menyuruh Victoria melakukan aborsi.”

    Apa yang Bill sebut sebagai solusi yang mudah untuk kehamilan yang tidak direncanakan dan tidak diinginkan sudah umum diterima. Menurut laporan sebuah penelitian global tahun 2007, di seluruh dunia diperkirakan terjadi 42 juta aborsi yang disengaja, atau pengguguran kandungan, pada tahun 2003. Wanita-wanita yang melakukan aborsi berasal dari segala macam suku dan kebangsaan, dari berbagai latar belakang agama, dan dari segala tingkat ekonomi, pendidikan, dan usia antara puber dan menopause. Seandainya Anda menghadapi kehamilan yang tidak diinginkan, apa yang akan Anda lakukan? Mengapa begitu banyak orang memilih aborsi?

    ‘Saya Merasa Tidak Ada Pilihan Lain’

    ”Saya baru saja mengalami kehamilan yang sulit serta persalinan yang berat, dan ada segunung problem keuangan dan keluarga,” jelas seorang wanita berusia 35 tahun. ”Lalu, enam minggu setelah melahirkan, saya hamil lagi. Kami memutuskan untuk aborsi. Dalam hati, saya merasa salah, namun saya merasa tidak ada pilihan lain.”

    Para wanita memilih aborsi karena berbagai alasan, mulai dari problem finansial sampai hubungan yang rusak dan mungkin disertai penganiayaan, sehingga mereka sama sekali tidak ingin ada ikatan lagi dengan si pria. Atau, kehamilan tersebut semata-mata tidak sesuai dengan rencana si wanita atau suatu pasangan.

    Adakalanya, orang memilih aborsi demi melindungi reputasi. Itulah yang terjadi dalam kasus yang dilaporkan oleh dr. Susan Wicklund dalam bukunya This Common Secret—My Journey as an Abortion Doctor. Seorang pasiennya yang berniat melakukan aborsi mengakui, ”Orang tua saya sangat religius. . . . Kalau saya punya bayi di luar nikah, nama baik mereka akan tercoreng. Semua teman mereka jadi tahu bahwa putri mereka telah berdosa.”

    Dr. Wicklund kemudian bertanya, ”Oke, di mata mereka Anda telah berdosa, lalu bagaimana pandangan mereka tentang aborsi?” Gadis itu mengakui, ”Oh, aborsi. Itu sama sekali tidak bisa diampuni. Tapi, ini tidak begitu parah karena akan tetap menjadi rahasia. Jika saya melakukan aborsi, teman-teman [orang tua saya] di gereja tidak akan pernah tahu.”

    Apa pun situasinya, biasanya keputusan untuk mengakhiri kehamilan dengan sengaja bukanlah keputusan yang mudah. Sering kali, itu sangat menyakitkan. Namun, apakah aborsi itu solusi yang bebas masalah?

    Pertimbangkan Konsekuensinya

    Sebuah penelitian tahun 2004 atas 331 wanita Rusia dan 217 wanita Amerika yang melakukan aborsi menyingkapkan bahwa sekitar setengah dari kedua kelompok merasa terganggu secara emosi setelah aborsi. Hampir 50 persen wanita Rusia dan hampir 80 persen wanita Amerika itu merasa ”bersalah” atas prosedur tersebut. Lebih dari 60 persen wanita Amerika ’tidak bisa memaafkan diri mereka’. Mengingat perasaan bersalah merupakan problem yang umum dialami—bahkan oleh orang-orang yang menganggap diri tidak religius—mengapa begitu banyak wanita muda masih melakukan aborsi?

    Mereka sering kali mendapat tekanan yang hebat untuk melakukan aborsi. Orang tua, teman hidup, atau teman-teman yang bermaksud baik menganjurkan aborsi karena menganggapnya sebagai pilihan yang lebih baik. Akibatnya, orang bisa mengambil keputusan yang terburu-buru dan tanpa pengetahuan yang memadai. ”Namun, setelah tekanan untuk membuat keputusan mereda dan aborsinya selesai,” jelas Dr. Priscilla Coleman, seorang pakar di bidang risiko kesehatan mental akibat aborsi, ”kemampuan berpikir para wanita kembali normal, sering kali diikuti perasaan bersalah, kesedihan, dan penyesalan yang dalam.”

    Penyesalan ini sering kali berfokus pada pertanyaan: Apakah aborsi itu mengakhiri suatu kehidupan yang sudah ada? Laporan oleh South Dakota Task Force to Study Abortion menyimpulkan bahwa banyak wanita hamil yang mempertimbangkan aborsi ”telah dengan keliru mengira bahwa yang disingkirkan hanyalah ’jaringan’, dan menyatakan bahwa mereka tidak bakal melakukan aborsi seandainya mereka diberi tahu kebenarannya”.

    Setelah meninjau ”kesaksian yang mencengangkan serta memilukan hati” dari 1.940 wanita yang telah melakukan aborsi, penelitian itu menyimpulkan, ”Banyak dari antara para wanita ini marah karena sangat sedih kehilangan anak yang kata orang tidak pernah ada.” Selain itu, dinyatakan bahwa ”setelah sang wanita tahu bahwa ia telah membunuh anaknya, dampak psikologisnya sering kali sangat menghancurkan”.

    Namun, apa kebenarannya? Apakah yang disingkirkan hanya suatu jaringan tubuh seorang wanita yang hamil? Apakah bayi yang belum lahir itu sebenarnya adalah manusia yang hidup sewaktu masih di dalam rahim?

    MELAHIRKAN VERSUS ABORSI

    A mother holding her daughter

    Sebuah penelitian tahun 2006 mengulas riwayat hidup banyak wanita yang hamil semasa remaja. Separuhnya melahirkan, dan separuhnya melakukan aborsi. Penelitian itu menyimpulkan bahwa wanita yang melahirkan ”lebih sedikit kemungkinannya menerima layanan konseling psikologis, lebih sedikit problem tidurnya, dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengisap mariyuana bila dibanding dengan [wanita yang melakukan] aborsi”.—Journal of Youth and Adolescence.

    A depressed woman

    Laporan lain memberikan ”hasil dari empat penelitian yang sangat ekstensif”. Apa yang diperlihatkan keempat penelitian tersebut? ”Para wanita dengan riwayat aborsi mengalami problem kesehatan mental yang lebih tinggi dalam beragam bentuk dibandingkan para wanita tanpa riwayat aborsi.”—Report of the South Dakota Task Force to Study Abortion—2005.


    KAPAN
    Kehidupan Manusia Dimulai?

    “IBU kandung saya berusia 17 tahun dan sedang hamil 7 1/2 bulan ketika ia memutuskan untuk melakukan aborsi dengan larutan garam,” jelas Gianna.*. Ia menambahkan, ”Sayalah orang yang ia gugurkan. Namun, saya ternyata tidak mati.”

    Kesaksian ini diberikan pada tahun 1996 oleh Gianna yang berusia 19 tahun di depan sebuah komite pemerintah Amerika Serikat mengenai aborsi. Ketika Gianna berada dalam rahim ibunya selama tujuh setengah bulan, bagian-bagian tubuhnya sudah berkembang lengkap. Anda mungkin setuju bahwa sebenarnya ia seorang manusia, karena kehidupannya sebagai manusia berlanjut di luar rahim.

    Nah, kalau begitu, bagaimana ketika Gianna masih sebagai embrio berusia lima minggu, dengan ukuran panjang satu sentimeter? Memang, bagian-bagian tubuhnya belum terbentuk sepenuhnya, namun fondasi untuk sistem sarafnya, termasuk untuk otaknya, sudah terbentuk. Ia memiliki detak jantung 80 kali per menit yang memompakan darah melalui pembuluh. Jadi, jika Gianna sudah menjadi manusia pada usia tujuh setengah bulan di dalam rahim, tidakkah masuk akal untuk menyimpulkan bahwa ia sudah menjadi manusia pada usia lima minggu—meski belum selengkap manusia berusia tujuh setengah bulan?

    Keajaiban Pembuahan

    Sejak saat pembuahan di dalam rahim, si anak adalah manusia yang tersendiri, bukan sekadar bagian dari jaringan sang ibu. Tubuh sang ibu menganggap si anak sebagai benda asing. Seandainya tidak ada ”lingkungan yang terlindung” di dalam rahim, si anak akan segera ditolak oleh tubuh sang ibu. Kehidupan manusia yang baru ini—dipisahkan dari ibunya oleh ruang pelindung—adalah manusia dengan sidik jari DNA yang tersendiri.

    An embryo

    Sebuah embrio manusia berusia lima minggu bukan sekadar sepotong jaringan—di dalamnya terdapat fondasi untuk semua organ manusia dewasa

    Sel tunggal itu memulai proses menakjubkan, yakni membangun manusia yang utuh. Proyek ”pembangunan” ini ditentukan oleh gen-gen kita, yaitu segmen-segmen DNA. Gen-gen tersebut mengontrol hampir segala sesuatu mengenai diri kita, seperti tinggi badan, ciri-ciri wajah, warna mata dan rambut, dan ribuan sifat lainnya.

    Belakangan, saat sel yang mula-mula itu membelah, ”cetak biru” genetis yang lengkap digandakan ke setiap sel baru. Yang menakjubkan, setiap sel ini diprogram untuk berkembang menjadi sel apa pun yang diperlukan. Ini termasuk jaringan hati, otak, tulang, kulit, dan bahkan jaringan transparan untuk mata kita. Tidak heran, pemrograman awal untuk perkembangan manusia baru yang unik yang terjadi di dalam sel yang semula itu sering disebut ”keajaiban”.

    ”Manusia sudah sepenuhnya diprogram untuk pertumbuhan dan perkembangan selama seluruh kehidupannya sejak ia masih satu sel,” lapor Dr. David Fu-Chi Mark, seorang biolog molekuler yang dihormati. Ia menyimpulkan, ”Tidak ada lagi keraguan apa pun bahwa setiap manusia benar-benar unik sejak awal mula kehidupannya pada saat pembuahan.”

    Manusia di Dalam Rahim?

    Sejak saat pembuahan di dalam rahim, si anak adalah manusia yang tersendiri, bukan sekadar bagian dari jaringan sang ibu. Tubuh sang ibu menganggap si anak sebagai benda asing. Seandainya tidak ada ”lingkungan yang terlindung” di dalam rahim, si anak akan segera ditolak oleh tubuh sang ibu. Kehidupan manusia yang baru ini—dipisahkan dari ibunya oleh ruang pelindung—adalah manusia dengan sidik jari DNA yang tersendiri.

    Ada yang berpendapat bahwa karena tubuh wanita secara spontan menggugurkan banyak telur yang telah dibuahi karena telur-telur itu tidak normal, sah-sah saja jika dokter menggugurkan kandungan. Namun, tentu kematian spontan sama sekali berbeda dengan pembunuhan yang disengaja. Di sebuah negeri di Amerika Selatan, 71 dari 1.000 anak mati pada umur satu tahun. Tetapi, hanya karena begitu banyak anak mati dini, apakah dibenarkan untuk membunuh seorang anak di bawah usia satu tahun? Tentu saja tidak!

    Menarik, Alkitab menjelaskan bahwa kehidupan manusia sudah ada di dalam rahim. Sang pemazmur Daud menulis mengenai Allah, ”Matamu melihat bahkan ketika aku masih embrio, dan semua bagiannya tertulis dalam bukumu.” (Mazmur 139:16) Daud tidak sekadar mengatakan ”sebuah embrio” tetapi ”ketika AKU masih embrio”, dengan demikian secara akurat menyingkapkan bahwa kehidupan Daud dimulai saat ia dikandung, lama sebelum kelahirannya. Di bawah ilham Allah, Daud juga menyingkapkan bahwa pada saat pembuahan, bagian-bagian tubuhnya berkembang mengikuti suatu rencana, atau instruksi ”tertulis” yang terperinci, yang membentuk dirinya sebagai manusia.

    Perhatikan juga bahwa Alkitab tidak mengatakan bahwa seorang wanita mengandung sebuah jaringan. Sebaliknya, Alkitab menyatakan, ”Seorang laki-laki telah dikandung!” (Ayub 3:3) Hal ini juga menunjukkan bahwa, menurut Alkitab, seorang anak mulai hidup sebagai manusia sejak pembuahan. Ya, itulah saatnya kehidupan manusia dimulai [Jawaban lebih Lanjut].


    * Aborsi dengan larutan garam dilakukan dengan menyuntikkan larutan garam beracun ke dalam rahim sang ibu, yang ditelan si bayi; biasanya kematian terjadi dalam waktu dua jam. Sang ibu mulai bersalin kira-kira 24 jam kemudian dan melahirkan bayi yang mati atau—dalam beberapa kasus—yang sekarat.

    Appeared in Awake! June 2009

    Jumat, 17 Desember 2010

    Harapan bagi Penderita Artritis

    Dekade Tulang dan Sendi yang dicanangkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia yang berlangsung pada milenium 2000-2010, kini hampir berakhir pada tahun ini. Artritis menjangkiti jutaan orang—tua maupun muda. Apa penyebab penyakit yang melumpuhkan ini? Mengapa para penderitanya dapat menanti-nantikan kesembuhan yang sejati? Berikut ulasannya:




    Arthritis—Penyakit yang Melumpuhkan

    Woman"ANDA TIDAK AKAN DAPAT MEMBAYANGKAN BETAPA NYERINYA PENYAKIT INI SEBELUM ANDA MERASAKANNYA SENDIRI. SAYA RASA, SATU-SATUNYA YANG DAPAT MEMBUAT SAYA MERASA LEGA ADALAH KALAU SAYA MATI."—Setsuko, Jepang.

    Man
    "GARA-GARA PENYAKIT YANG SAYA DERITA SEJAK USIA 16 TAHUN INI, SAYA MERASA KEHILANGAN MASA REMAJA SAYA."—Darren, Inggris Raya.

    Young woman
    "DUA TAHUN KEHIDUPAN SAYA TERBUANG KARENA HARUS TERBARING SAKIT."—Katia, Italia.

    Woman
    "BEGITU NYERI MENYERANG SELURUH PERSENDIAN SAYA, SATU-SATUNYA YANG SAYA RASAKAN ADALAH NYERI ITU."—Joyce, Afrika Selatan.

    ITULAH keluhan-keluhan para korban penyakit yang dikenal sebagai artritis. Artritis membuat jutaan penderitanya harus mengunjungi dokter mereka setiap tahun untuk mendapatkan kelegaan dari rasa nyeri, imobilitas (sendi tidak dapat digerakkan), dan deformitas (perubahan bentuk) yang diakibatkannya.

    Di Amerika Serikat saja, artritis menyerang lebih dari 42 juta orang dan melumpuhkan 1 dari setiap 6 penderita. Sebenarnya, artritis adalah penyebab utama kelumpuhan di negara itu. Dampak ekonomi akibat penyakit itu ”menurut perhitungan kasar setara dengan resesi kelas menengah”, kata Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional AS, mengingat penyakit itu membebani penduduk Amerika Serikat lebih dari 64 miliar dolar AS per tahun untuk biaya medis dan hilangnya produktivitas. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, survei yang dilakukan di negara-negara berkembang, seperti Brasil, Cile, Cina, Filipina, India, Indonesia, Malaysia, Meksiko, Pakistan, dan Thailand, memperlihatkan bahwa dampak artritis dan penyakit rematik lainnya di negara-negara itu hampir ”sama dengan di negara-negara maju”.

    Anggapan bahwa artritis adalah penyakit orang lanjut usia hanyalah mitos. Memang, semakin tua seseorang, semakin serius dampaknya. Namun, salah satu bentuk artritis yang paling umum, artritis rematoid, umumnya menyerang orang berusia antara 25 dan 50 tahun. Di Amerika Serikat, hampir 3 dari setiap 5 penderita artritis berusia di bawah 65 tahun. Demikian pula, di Inggris Raya, di antara 8 juta penderita artritis terdapat 1,2 juta orang berusia di bawah 45 tahun. Lebih dari 14.500 adalah anak-anak.

    X ray of arthritic hands

    Setiap tahun, jumlah penderita artritis meningkat dengan sangat pesat. Di Kanada, dalam dekade mendatang, jumlah penderita artritis akan bertambah sebanyak satu juta orang. Meskipun tidak sepesat di Eropa, kasus artritis juga sedang meningkat di Afrika dan Asia. Meluasnya penyakit artritis telah mendorong Organisasi Kesehatan Dunia untuk mencanangkan tahun 2000-2010 sebagai Dekade Tulang dan Sendi. Selama dasawarsa ini, para dokter dan praktisi kesehatan di seputar dunia akan bekerja sama dalam upaya meningkatkan mutu kehidupan para penderita penyakit muskuloskeletal (berkaitan dengan otot dan tulang) seperti artritis. [Ilustrasi: X ray: Used by kind permission of the Arthritis Research Campaign, United Kingdom (www.arc.org.uk)]



    Apa yang telah diketahui tentang penyakit yang sangat nyeri ini? Siapa yang berisiko menderitanya? Bagaimana para penderita artritis dapat bertahan menghadapi dampaknya yang melumpuhkan? Apakah akan ada kesembuhan di masa depan? Artikel-artikel berikut akan membahas masalah-masalah ini.

    Memahami Arthritis

    "PADA MALAM HARI, SAYA MEMANDANGI KAKI DAN TANGAN SAYA YANG BERUBAH BENTUK SAMBIL MENANGIS."—Midori, Japan.

    ARTRITIS telah menulahi umat manusia selama berabad-abad. Mumi-mumi di Mesir memberikan bukti bahwa penyakit ini telah ada berabad-abad yang lalu. Berdasarkan bukti yang ada, sang penjelajah Christopher Columbus menderita penyakit ini. Dan, pada saat ini, jutaan orang menderitanya. Apa sebenarnya penyakit artritis yang melumpuhkan ini?

    Istilah ”artritis” diambil dari kata Yunani yang berarti ”sendi yang mengalami peradangan” dan dikaitkan dengan lebih dari 100 jenis penyakit dan gangguan rematik.* Penyakit ini bukan hanya mempengaruhi sendi, melainkan juga otot, tulang, tendon (urat penghubung antara otot dengan sendi atau tulang), dan ligamen (jaringan pengikat tulang dengan sendi atau tulang lain) yang menunjang sendi. Beberapa jenis artritis dapat merusak kulit, organ-organ bagian dalam, dan bahkan mata Anda. Mari kita pusatkan perhatian pada dua penyakit yang umumnya dikaitkan dengan artritis—artritis rematoid (RA) dan osteoartritis (OA).


    Diagram of a healthy jointDiagram of rheumatoid arthritis joint and an osteoarthritis joint

    SENDI SEHAT:

    - BURSA

    - OTOT

    - KARTILAGO

    - TENDON

    - KANTONG SENDI

    - SELAPUT SINOVIAL

    - CAIRAN SINOVIAL

    - TULANG

    SENDI ARTRITIS REMATOID:

    - HILANGNYA RUANG

    - PERUSAKAN TULANG DAN KARTILAGO

    - PERADANGAN SELAPUT SINOVIAL

    SENDI OSTEOARTRITIS:

    - KOMPONEN KARTILAGO LEPAS

    - PERUSAKAN KARTILAGO

    - TONJOLAN TULANG

    [Keterangan]: Source: Arthritis Foundation


    Rancang Bangun Sendi

    Sendi adalah tempat bertemunya dua tulang. Sendi sinovial dikelilingi oleh sebuah kantong yang kuat tetapi lentur untuk melindungi dan menunjangnya. (Lihat ilustrasi atas.) Kantong sendi dilapisi selaput sinovial. Selaput ini memproduksi suatu cairan pelumas (sinovia). Di dalam kantong sendi, ujung kedua tulang dibungkus dengan sebuah jaringan elastis halus yang disebut kartilago (tulang rawan). Jaringan tersebut mencegah tulang agar tidak saling bergesek dan mengikis. Kartilago juga bertindak seperti peredam kejut, menjadi bantalan bagi ujung tulang-tulang Anda dan membagi rata tekanan ke sepanjang tulang Anda.

    Sebagai contoh, sewaktu Anda berjalan, berlari, atau melompat, tekanan yang dikerahkan pada pinggul dan lutut Anda dapat mencapai empat hingga delapan kali berat tubuh Anda! Meskipun sebagian besar dampak tekanan itu diredam oleh otot dan tendon di sekelilingnya, kartilago membantu tulang Anda menanggung beban tersebut dengan memampatkan diri seperti sebuah spons.


    Obesity, smoking and a history of blood transfusion may increase one's risk of developing rheumatoid arthritis

    Arthritis Rematoid

    Dalam kasus artritis rematoid (RA), sistem kekebalan tubuh melancarkan serangan habis-habisan terhadap sendi. Untuk alasan yang belum diketahui, sejumlah besar sel darah—termasuk sel-sel T, yang memegang peranan kunci dalam sistem kekebalan tubuh—menyerbu ke dalam rongga-rongga sendi. Hal ini memicu serangkaian reaksi kimia yang mengakibatkan peradangan pada sendi. Sel-sel sinovial mungkin mulai berlipat ganda tanpa terkendali, membentuk kumpulan jaringan seperti tumor yang disebut panus. Selanjutnya, panus memproduksi enzim-enzim perusak yang menghancurkan kartilago. Akibatnya, permukaan tulang pun saling menempel sehingga menghambat gerakan—dan menimbulkan nyeri yang sangat hebat. Proses yang merusak ini juga melemahkan ligamen, tendon, dan otot sehingga sendi menjadi goyah dan berpindah tempat sebagian (dislokasi parsial), sering kali mengakibatkan deformitas. Biasanya RA berpengaruh pada sendi secara simetris, menyerang pergelangan tangan, lutut, dan kaki. Hingga 50 persen orang yang didiagnosis terkena RA memiliki nodulus atau benjolan di bawah kulit. Ada juga yang mengalami anemia serta mata dan tenggorokan terasa nyeri dan kering. Kelelahan dan gejala-gejala seperti terserang flu, termasuk demam dan nyeri otot, juga menyertai RA.

    Dampak, serangan awal, serta durasi RA sangat bervariasi. Pada seseorang, rasa nyeri dan kaku mungkin timbul secara bertahap dalam periode berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun. Pada orang yang lain, serangan awalnya bisa jadi sangat mendadak. Pada beberapa orang, RA sembuh dalam beberapa bulan, tanpa meninggalkan bekas-bekas yang tampak. Yang lain mungkin mengalami periode memburuknya gejala RA yang disebut flare (kekambuhan tiba-tiba), disusul periode remisi (berkurangnya gejala penyakit) saat ia merasa lebih baik. Dan, pada beberapa pasien, penyakit ini terus menyerang selama bertahun-tahun, tak henti-hentinya melumpuhkan mereka.

    Siapa yang berisiko menderita RA? ”Yang paling umum adalah wanita setengah baya,” kata dr. Michael Schiff. Akan tetapi, Schiff selanjutnya mengatakan bahwa ”[RA] dapat menyerang siapa saja dari berbagai golongan usia termasuk anak-anak, dan juga pria”. Bagi orang-orang yang sanak saudaranya menderita artritis rematoid, risikonya lebih tinggi lagi. Beberapa penelitian juga memperlihatkan bahwa hal-hal yang dapat meningkatkan faktor risiko adalah merokok, obesitas, dan apabila seseorang pernah menerima transfusi darah.

    Older man with cane

    Artritis dapat menyerang orang dari segala usia

    Young woman rubbing her hands
    Man using a walker

    Osteoarthritis

    ”Osteoartritis,” kata Western Journal of Medicine, ”dalam banyak hal mirip cuaca—muncul serempak di berbagai tempat, sering kali tidak terduga, kadang-kadang dampaknya sangat mengejutkan.” Tidak seperti RA, osteoartritis (OA) jarang sekali menyebar ke bagian tubuh yang lain, tetapi menggerogoti hanya satu atau beberapa sendi. Seraya kartilago perlahan-lahan digerogoti, tulang-tulang mulai saling mengikis. Hal itu disertai dengan tumbuhnya tonjolan tulang yang disebut osteofit. Kista dapat terbentuk, dan tulang di bawahnya menebal, lalu mengalami deformitas. Gejala-gejala lainnya adalah ruas jari membengkak, suara berderit saat sendi yang terkena artritis digerakkan, dan kejang otot, disertai rasa nyeri, kaku, dan sendi tidak dapat digerakkan.

    Di masa lampau, OA dianggap hanya bagian dari proses penuaan. Akan tetapi, para ahli telah meninggalkan kepercayaan kolot itu. The American Journal of Medicine menyatakan, ”Tidak ada bukti bahwa sendi normal, yang mendapat tekanan yang biasa, akan pernah aus selama masa hidup seseorang.” Kalau begitu, apa penyebab osteoartritis? Upaya untuk memahami penyebabnya yang spesifik masih ”diwarnai perdebatan”, kata majalah Inggris The Lancet. Beberapa peneliti berpendapat bahwa mungkin yang pertama-tama terjadi adalah kerusakan pada tulang, misalnya retak yang sangat kecil. Selanjutnya, hal itu memicu pertumbuhan tonjolan tulang dan pengikisan kartilago. Para peneliti lain berpendapat bahwa OA bermula dari kartilago sendiri. Seraya kartilago terkikis dan koyak, menurut mereka, tekanan pada tulang di bawahnya meningkat. Perubahan patologis terjadi seraya tubuh berupaya memperbaiki kartilago yang rusak.

    Siapa yang berisiko menderita OA? Meskipun usia tua bukanlah satu-satunya penyebab OA, hilangnya kartilago pada sendi lebih sering ditemukan pada orang berumur. Kelompok lain yang juga berisiko adalah orang-orang yang memiliki ketidaknormalan pada persambungan sendi, atau yang otot kaki dan pahanya lemah, yang kedua kakinya tidak sama panjang, atau yang posisi tulang belakangnya tidak sejajar. Penyebab lain yang berpotensi menimbulkan osteoartritis adalah cedera pada sendi yang disebabkan oleh kecelakaan atau akibat pekerjaan yang menuntut gerakan tertentu secara berulang-ulang sehingga sendi bekerja secara berlebihan. Begitu pengikisan mulai terjadi, kelebihan berat badan dapat memperburuk OA.

    ”Osteoartritis adalah suatu penyakit kompleks yang memiliki faktor risiko eksternal yang pasti, tetapi juga memiliki komponen genetika yang kuat,” kata dr. Tim Spector. Yang khususnya rentan terhadap OA adalah wanita berusia setengah baya atau lebih yang sanak saudaranya pernah menderita penyakit ini. Berlawanan dengan osteoporosis, tulang yang memiliki kepadatan yang tinggi, bukannya yang rendah, yang mendahului munculnya OA. Beberapa peneliti juga menyinggung kerusakan akibat radikal oksigen bebas dan defisiensi vitamin C dan D sebagai faktor-faktor penyebab OA.

    Terapi-Terapi Alternatif

    Hands holding a caneBeberapa obat terapeutik dianggap lebih aman, dengan efek sampingan yang lebih sedikit, daripada pengobatan yang sudah umum. Di antaranya adalah dengan meminum kolagen tipe II, yang menurut beberapa ahli, berhasil mengurangi bengkak dan nyeri pada sendi akibat artritis rematoid (RA). Bagaimana caranya? Dengan menghambat sitokin-sitokin yang menyebabkan peradangan serta bersifat merusak, yaitu interleukin-1 dan faktor nekrosis tumor α. Beberapa zat hara alami juga dilaporkan telah memperlihatkan kesanggupan menghambat unsur-unsur perusak tersebut. Zat-zat itu mencakup vitamin E, vitamin C, niasinamida, minyak ikan yang kaya EPA (asam eikosapentanoat) dan GLA (asam gamalinoleat), minyak biji borage, dan minyak evening primrose. Di Cina, Kait F Tripterygium wilfordii, sejenis jamu, telah digunakan selama bertahun-tahun. Menurut laporan, penggunaan tanaman itu cukup berhasil mengurangi dampak RA.

    Older woman swimming

    Program gerak badan dan diet yang cocok dapat melegakan sampai taraf tertentu

    Man eating a balanced meal
    Physical Therapist helping a man

    Treatment

    Pengobatan artritis biasanya mencakup kombinasi konsumsi obat-obatan, gerak badan, dan perubahan gaya hidup. Seorang ahli fisioterapi mungkin menganjurkan program terapi gerak badan. Program itu mungkin memadukan sejumlah gerakan, latihan isometrik, aerobik, dan latihan isotonik atau latihan dengan beban. Latihan-latihan itu terbukti telah mengurangi berbagai gejala artritis, termasuk nyeri dan bengkak pada sendi, kelelahan, kelesuan, dan depresi. Manfaat latihan-latihan itu terlihat nyata bahkan pada pasien-pasien yang berusia sangat tua. Latihan juga dapat membatasi hilangnya kepadatan tulang. Beberapa ahli mengatakan bahwa berbagai terapi panas dan dingin serta akupunktur dapat mengurangi rasa nyeri hingga taraf tertentu.#

    Karena berat badan yang berkurang dapat mengurangi nyeri sendi secara mencolok, diet dapat menjadi komponen penting dalam menghadapi artritis. Beberapa ahli juga mengatakan bahwa diet yang mengandung makanan kaya kalsium seperti sayur-sayuran berwarna hijau tua, buah segar, dan ikan air dingin yang kaya asam lemak omega-3—dan mengurangi konsumsi makanan olahan serta lemak jenuh—bukan hanya dapat turut mengurangi berat badan, melainkan juga mengurangi rasa nyeri. Mengapa demikian? Beberapa ahli mengatakan bahwa diet seperti itu menghambat peradangan. Ada juga yang mengatakan bahwa diet tanpa konsumsi daging, produk-produk susu, gandum, dan sayur-sayuran dari famili Solanaceae, seperti tomat, kentang, cabai, dan terung, terbukti efektif bagi mereka.

    Dalam beberapa kasus, para ahli merekomendasikan prosedur pembedahan yang disebut artroskopi. Dalam pembedahan ini, sebuah alat dimasukkan ke dalam sendi sehingga dokter bedah dapat mengangkat jaringan sinovial yang memproduksi enzim-enzim perusak. Akan tetapi, prosedur ini terbatas keefektifannya karena peradangan sering kambuh lagi. Prosedur lain yang lebih drastis lagi adalah artroplasti, yaitu mengganti seluruh sendi (biasanya pinggul atau lutut) dengan sendi buatan. Hasil pembedahan ini tahan 10 hingga 15 tahun dan sering kali sangat efektif dalam menghilangkan nyeri.

    Baru-baru ini, para dokter telah mencoba cara-cara pengobatan yang tidak memerlukan pembedahan, seperti viscosupplementation, yakni menyuntikkan cairan hyaluronat langsung ke dalam sendi. Prosedur ini paling sering dilakukan pada lutut. Menurut beberapa penelitian di Eropa, penyuntikan zat-zat yang merangsang perbaikan kartilago (zat kondroitin) juga cukup sukses.

    Meskipun obat yang dapat menyembuhkan artritis belum ditemukan, ada banyak obat pereda rasa nyeri dan peradangan, dan beberapa di antaranya cukup ampuh untuk memperlambat perkembangan penyakit ini. Analgesik, atau obat penawar rasa nyeri, serta terapi kortikosteroid, obat antiradang nonsteroid (NSAIDs), obat antirematik yang memodifikasi penyakit (DMARDs), imunosupresan (obat penghambat reaksi kekebalan tubuh), obat pengubah respons biologis, dan obat-obat yang direkayasa secara genetis untuk menghambat respons kekebalan tubuh, semua ini adalah berbagai obat yang digunakan untuk memberi kelegaan dari gejala artritis yang melumpuhkan. Akan tetapi, kelegaan yang dihasilkan mungkin membutuhkan pengorbanan besar, karena segala jenis obat itu dapat mengakibatkan efek sampingan yang serius. Mempertimbangkan soal manfaat yang dihasilkan dan risiko yang diakibatkannya merupakan tantangan bagi pasien maupun dokter.

    Bagaimana beberapa korban amukan artritis dapat menghadapi penyakit yang sangat nyeri ini?


    * Ini mencakup antara lain osteoartritis, artritis rematoid, systemic lupus erythematosus (penyakit lupus), artritis rematoid pada anak-anak, gout, bursitis, demam rematik, penyakit Lyme, carpal tunnel syndrome, fibromialgia, sindroma Reiter, dan spondilitis rematoid.

    # Awake! atau Sedarlah! tidak menganjurkan terapi, konsumsi obat, atau prosedur pembedahan apa pun. Masing-masing penderita bertanggung jawab untuk menyelidiki dan mempertimbangkan dengan saksama sebelum memutuskan bentuk pengobatan apa pun yang akan ia jalani berdasarkan fakta yang telah ia ketahui.




      Hope for Arthritis Sufferers

      Woman swinging little girl

      ARTRITIS memang bukan penyebab utama kematian seperti penyakit jantung atau kanker,” kata Dr. Fatima Mili, ”tetapi dampaknya sangat besar terhadap mutu kehidupan.” Artritis dapat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan seseorang. Apa saja problem yang dihadapi para penderita artritis? Apakah mungkin untuk menghadapinya?

      Katia,* berusia 28 tahun, asal Italia, mengatakan, ”Sejak didiagnosis mengidap artritis pada usia 20 tahun, seluruh kehidupan saya berubah. Saya harus keluar dari pekerjaan saya dan melepaskan karier saya dalam dinas sepenuh waktu karena rasa nyerinya.” Rasa nyeri adalah problem universal penderita artritis. Alan, berusia 63 tahun, asal Inggris, mengatakan, ”Nyeri selalu terasa di salah satu bagian tubuh, meski ringan.” Tantangan lain adalah kelelahan. ”Bahkan apabila Anda dapat menahan rasa nyeri dan bengkak,” kata Sarah yang berusia 21 tahun, ”rasa lelahnya tidak tertahankan."

      Kepedihan Emosi

      Menurut Setsuko yang berusia 61 tahun, dari Jepang, setiap hari bergelut dengan rasa nyeri yang kronis dapat pula ”melelahkan secara emosi dan mental”. Bayangkan saja, sekadar berupaya untuk memegang pensil atau telepon dapat menjadi tantangan! Kazumi yang berusia 47 tahun meratap, ”Bahkan hal-hal biasa yang dapat dilakukan seorang anak kecil pun tidak mungkin saya lakukan.” Janice, yang berusia 60 tahun dan tidak dapat lama berdiri atau berjalan, mengatakan, ”Saya sangat kecil hati karena tidak dapat melakukan hal-hal seperti dulu.”

      Keterbatasan demikian dapat menyebabkan frustrasi dan perasaan negatif terhadap diri sendiri. Gaku, yang berusia 27 tahun dan adalah seorang Saksi-Saksi Yehuwa, mengatakan, ”Karena tidak dapat ambil bagian sepenuhnya dalam pekerjaan penginjilan atau menunaikan tugas di sidang, saya merasa sama sekali tidak berharga.” Francesca, yang telah bergumul dengan artritis sejak berusia dua tahun, menggambarkan bagaimana ia merasa ”semakin tersedot ke dalam pusaran keputusasaan”. Keputusasaan demikian dapat memberi dampak yang buruk secara rohani. Joyce, seorang Saksi di Afrika Selatan, mengakui bahwa ia mulai tidak menghadiri perhimpunan Kristen. ”Saya tidak sanggup bertemu siapa pun,” jelasnya.

      Seorang penderita artritis mungkin juga sangat khawatir tentang masa depan—takut kalau-kalau mengalami imobilitas dan harus bergantung pada orang lain, takut kalau-kalau diabaikan tanpa ada yang memperhatikan, takut kalau-kalau jatuh dan mengalami patah tulang, takut kalau-kalau tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Yoko, yang berusia 52 tahun, mengakui, ”Sewaktu saya melihat bahwa sendi saya mulai berubah bentuk, saya takut kalau-kalau keadaan itu akan semakin buruk.”

      Para anggota keluarga pun menderita kepedihan emosi, karena setiap hari dihadapkan pada penderitaan orang yang mereka kasihi. Beberapa pasangan bahkan mengalami ketegangan perkawinan yang parah. Seorang wanita di Inggris, bernama Denise, mengatakan, ”Setelah 15 tahun menikah, suami saya menyatakan, ’Saya tidak tahan lagi dengan penyakit artritismu!’ Ia meninggalkan saya dan putri kami yang berusia 5 tahun.”

      Oleh karena itu, artritis menghadirkan tantangan yang sangat besar bagi penderitanya maupun bagi keluarga mereka. Akan tetapi, ada banyak penderita yang berhasil menghadapinya! Mari kita perhatikan bagaimana beberapa penderita melakukannya.

      Device for picking items up

      Ada banyak alat yang dapat membantu penderita artritis menjalani kehidupan yang produktif

      Device for opening jars
      Device for using keys
      Device for writing

      Sadarilah Keterbatasan Anda

      Istirahat yang cukup sangatlah penting apabila Anda adalah seorang penderita artritis; hal itu dapat meminimalkan rasa lelah. Akan tetapi, hal itu tidak berarti bahwa Anda tidak boleh mengerjakan apa-apa. Timothy menjelaskan, ”Anda perlu tetap aktif sehingga artritis tidak menguasai Anda secara mental, karena apabila hal itu terjadi, Anda hanya akan tergeletak sambil merasakan nyerinya.” Ahli rematik William Ginsburg dari Mayo Clinic mengatakan, ”Hanya ada sedikit sekali perbedaan antara terlalu banyak dan terlalu sedikit kegiatan. Kadang-kadang, para penderita harus diingatkan agar mengurangi kegiatan dan mengingat penyakit mereka.”

      Hal itu mungkin menuntut perubahan cara Anda memandang keterbatasan Anda. Daphne, dari Afrika Selatan, menyatakan, ”Saya harus bersikap realistis dan sadar bahwa kesanggupan saya melakukan hal tertentu tidaklah lenyap sama sekali; saya hanya perlu melakukannya dengan lebih perlahan. Daripada menjadi cemas atau frustrasi, saya melakukan pekerjaan sedikit demi sedikit.”

      Hal lain yang dapat juga dipertimbangkan adalah mencari tahu berbagai alat bantu yang tersedia, mungkin dengan membahasnya terlebih dahulu bersama dokter atau ahli fisioterapi Anda. Keiko mengatakan, ”Kami memasang sebuah kursi roda khusus pada tangga. Pergelangan tangan saya sakit sewaktu memutar pegangan pintu, maka kami menggantinya. Sekarang, saya dapat membuka semua pintu dengan mendorongnya menggunakan kepala saya. Kami memasang keran air jenis tuas di rumah kami, sehingga setidaknya saya dapat melakukan beberapa pekerjaan rumah tangga.” Penderita artritis lainnya bernama Gail mengatakan, ”Kunci mobil serta kunci rumah saya dipasangi gagang yang panjang, sehingga saya lebih mudah memutarnya. Sisir serta sikat rambut saya juga diperpanjang dan dapat disetel pada berbagai sudut yang berbeda untuk menyisir dan menyikat rambut."

      Dukungan Keluarga—"Sumber Kekuatan"

      Carla, dari Brasil, mengatakan, ”Dukungan suami saya sangat penting. Fakta bahwa ia menyertai saya sewaktu mengunjungi dokter memberi saya ketabahan. Kami bersama-sama mencari tahu bagaimana penyakit ini mempengaruhi tubuh saya, gejala-gejalanya, dan jenis pengobatan yang dibutuhkan. Saya merasa lebih baik karena ia dapat memahami kesulitan-kesulitan yang saya alami.” Ya, para suami atau istri yang menerima keterbatasan pasangan mereka dan yang mau mencari tahu tentang keadaan mereka dapat menjadi sumber kekuatan dan dukungan yang sangat besar.

      Misalnya, Bette bekerja sebagai petugas pembersihan sewaktu suaminya harus berhenti dari pekerjaan konstruksi karena artritis. Suami Kazumi tidak hanya merawatnya, tetapi juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tidak dapat Kazumi lakukan. Selain itu, sang suami melatih anak-anak mereka untuk membantu sebisa mungkin. Kazumi berkata, ”Suami saya telah menjadi sumber kekuatan saya. Tanpa bantuannya, keadaan saya akan jauh lebih buruk.”

      Seorang wanita bernama Carol, dari Australia, memberi peringatan ini, ”Berhati-hatilah agar tidak menjadwalkan terlalu banyak kegiatan. Perasaan rendah diri mudah menyusup ke dalam diri saya apabila saya tidak dapat bekerja secepat yang lain dalam keluarga.” Dengan dukungan yang disertai pemahaman dan pertimbangan yang sungguh-sungguh terhadap keadaan penderita artritis, keluarga dapat menjadi suatu sumber kekuatan baginya.

      Bantuan Rohani

      Woman in wheelchair receiving support at a Christian meeting
      Dukungan yang pengasih dapat diperoleh di perhimpunan Kristen

      Katia mengatakan, ”Sewaktu seseorang menderita penyakit seperti ini, ia yakin bahwa tidak seorang pun memahami apa yang sedang ia alami. Oleh karena itu, penting agar ia berpaling kepada Allah Yehuwa, karena mengetahui bahwa Ia benar-benar memahami keadaan fisik dan emosi kita. (Mazmur 31:7) Memiliki hubungan yang baik dengan-Nya telah memberi saya kedamaian pikiran untuk bertekun menghadapi penyakit saya dengan jauh lebih tenang.” Dengan tepat Alkitab menyebut Yehuwa sebagai ’Allah segala penghiburan, yang menghibur kita dalam semua kesengsaraan kita’.—2 Korintus 1:3, 4.

      Jadi, doa dapat menjadi sumber penghiburan yang ampuh bagi penderita rasa nyeri yang kronis. Kazumi menyatakan, ”Pada saat saya tidak dapat tidur sepanjang malam akibat rasa nyeri, saya mencurahkan isi hati kepada Yehuwa sambil menangis, memohon kekuatan dari-Nya untuk menahan nyeri itu dan juga hikmat untuk menghadapi semua kesulitan saya. Yehuwa benar-benar menjawab doa saya.” Francesca juga merasakan dukungan Allah yang pengasih. Ia berkata, ”Saya telah merasakan betapa benarnya kata-kata di Filipi 4:13: ’Dalam segala perkara aku mempunyai kekuatan melalui dia yang memberikan kuasa kepadaku.’”

      Sering kali, Allah Yehuwa memberi dukungan melalui sidang Kristen. Misalnya, Gail menceritakan bantuan yang ia terima dari saudara-saudari rohaninya di sidang Saksi-Saksi Yehuwa setempat. ”Kasih mereka membantu saya agar tidak depresi,” kata Gail. Dengan nada serupa, sewaktu Keiko ditanya, ”Adakah hal yang Anda rasa menyenangkan dalam kehidupan Anda?” ia menjawab, ”Ada, kasih dan simpati yang saya terima dari semua saudara-saudari di sidang!”

      Di sidang-sidang Saksi-Saksi Yehuwa, para pengawas mengambil pimpinan dalam mengulurkan dukungan demikian. Setsuko berkata, ”Saya tidak dapat melukiskan betapa besar pengaruh yang dihasilkan pada seseorang yang bergelut dengan penyakit sewaktu para penatua mendengarkan dan memberi penghiburan.” Akan tetapi, seperti yang diingatkan oleh seorang penderita artritis bernama Daniel, ”saudara-saudari rohani kita hanya akan membantu apabila kita membiarkan mereka melakukannya”. Oleh karena itu, penting bagi para penderita artritis untuk memelihara kontak dengan rekan-rekan Kristennya, berupaya sebisa-bisanya untuk menghadiri perhimpunan. (Ibrani 10:24, 25) Di sana, mereka dapat menerima anjuran rohani yang diperlukan untuk bertekun.

      Penderitaan Akan Berakhir

      Para penderita artritis sangat berterima kasih kepada kalangan medis atas kemajuan-kemajuan yang telah dicapai sejauh ini. Akan tetapi, bahkan pengobatan yang terbaik pun masih jauh dari pengobatan yang sejati. Pada akhirnya, para penderita dapat menemukan penghiburan yang terbesar dengan menyambut janji-janji Allah akan suatu dunia baru.# Yesaya 33:24; Penyingkapan 21:3, 4) Dalam dunia itu, ’orang timpang akan melompat seperti rusa jantan’. (Yesaya 35:6) Artritis maupun semua penyakit lainnya yang menyengsarakan umat manusia akan lenyap untuk selama-lamanya! Peter, seorang korban artritis tulang belakang mengatakan, ”Saya dapat melihat cahaya di ujung terowongan gelap yang sedang saya lalui ini.” Seorang wanita Kristen bernama Giuliana juga mengatakan, ”Saya menganggap setiap hari yang berlalu sebagai suatu kemenangan pertempuran, berkurang satu hari lagi yang harus dihadapi sebelum akhir itu datang!” Ya, saat berakhirnya artritis dan bahkan segala jenis penderitaan sudah dekat!


      * Some of the names have been changed.

      # Jika Anda ingin seorang Saksi-Saksi Yehuwa mengunjungi Anda untuk menjelaskan janji-janji Alkitab, silakan menghubungi sidang Saksi-Saksi Yehuwa setempat atau menyurati penerbit majalah ini.

      Appeared in Awake! December 8, 2001

      Follower